UTAMA
Indeks
Budaya

Keutamaan Membaca Sholawat di Hari Jumat bagi Muslim Solo

Bagi banyak warga Surakarta, keutamaan sholawat Jumat menjadi amalan yang diulang setiap pekan usai salat Jumat atau di sela aktivitas keluarga. Tradisi ini hidup di masjid-masjid kampung, majelis taklim, hingga grup pengajian daring yang ramai di Solo Raya. Membaca sholawat bukan sekadar kebiasaan, melainkan bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW yang diyakini membawa keberkahan khusus di hari yang dimuliakan itu.

Hari Jumat dalam ajaran Islam disebut sebagai penghulu hari. Pada momen tersebut, amalan kebaikan dinilai lebih utama, termasuk memperbanyak sholawat. Umat dianjurkan menjaga lisan agar tetap basah dengan pujian kepada Rasulullah, baik setelah azan, saat khutbah selesai, maupun sepanjang hari hingga magrib.

Mengapa sholawat di hari Jumat diutamakan

Secara substansi, sholawat adalah doa dan penghormatan kepada Nabi. Di hari Jumat, keutamaannya ditegaskan dalam sejumlah riwayat yang mendorong umat memperbanyaknya. Amalan ini dipandang sebagai jembatan spiritual: hati menjadi lebih tenang, rasa syukur tumbuh, dan hubungan batin dengan sunah nabi semakin erat.

Di lingkungan Solo yang kental budaya santun dan guyub, membaca sholawat sering digabung dengan selawat burdah, diba, atau tahlil ringan. Aktivitas itu tidak menuntut waktu panjang, namun konsistensinya yang dinilai berharga. Orang tua biasanya mencontohkan anak-anak agar terbiasa mengucap sholawat sebelum bepergian atau sesudah salat.

Pahala berlipat dan penghapusan dosa

Salah satu sisi yang paling sering dibahas adalah ganjaran berlipat. Membaca sholawat diyakini mendatangkan balasan kebaikan berkali-kali lipat, sekaligus menjadi wasilah ampunan atas dosa-dosa ringan. Umat diajak tidak hanya mengejar angka, melainkan meresapi makna setiap lafaz agar amalan tidak kosong dari kehadiran hati.

Keutamaan lain yang kerap diingatkan para dai setempat ialah kedekatan dengan syafaat Nabi di hari kemudian. Sholawat yang dibaca dengan penuh harap dipandang sebagai bekal spiritual. Di masjid-masjid Solo, imam atau takmir kadang menyelipkan himbauan singkat agar jemaah tidak melewatkan momen Jumat tanpa sholawat.

Ketenangan jiwa dan berkah rezeki

Banyak jemaah merasakan manfaat praktis: dada lebih lega, emosi lebih terkendali, dan fokus ibadah meningkat. Sholawat berfungsi seperti zikir yang menenangkan. Dalam suasana kota yang ramai, jeda sejenak untuk bersholawat membantu menata ulang pikiran sebelum kembali bekerja atau mengurus rumah tangga.

Aspek berkah rezeki juga sering disebut dalam pengajian. Umat diingatkan bahwa rezeki bukan hanya materi, melainkan kesehatan, keluarga harmonis, dan kemudahan urusan. Membaca sholawat di hari Jumat dipandang sebagai salah satu pintu memohon kelapangan tersebut, asalkan diiringi usaha halal dan sikap qanaah.

Cara sederhana merutinkan amalan

Tidak perlu menunggu majelis besar. Cukup sediakan waktu singkat setelah salat fardu, saat menunggu khutbah, atau dalam perjalanan pulang dari masjid. Lafaz yang paling dikenal ialah Allahumma sholli ala Muhammad. Boleh ditambah sholawat ibrahimiyah yang biasa dibaca dalam tahiyat.

  • Mulai dengan niat ikhlas karena Allah
  • Jaga adab: duduk tenang, suara tidak berlebihan di ruang publik
  • Ajak anggota keluarga agar menjadi kebiasaan rumah
  • Konsisten setiap Jumat meski hanya belasan kali bacaan

Warga Solo dapat menyesuaikan dengan ritme lokal, misalnya menggabungkan sholawat dengan tradisi gotong royong atau pengajian RT. Yang penting adalah kontinuitas, bukan sekadar seremoni sesaat.

Menjaga makna di tengah kesibukan

Tantangan terbesar justru kesibukan harian. Pasar, kantor, dan aktivitas sekolah sering membuat amalan tergeser. Karena itu, pengingat lewat ponsel atau kesepakatan keluarga bisa membantu. Masjid dan komunitas pengajian di Surakarta umumnya terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar lafaz dan adabnya tanpa biaya.

Pada akhirnya, keutamaan sholawat Jumat mengajak umat kembali pada inti: mencintai Nabi melalui ucapan dan perbuatan. Amalan ringan ini bila dijaga dapat menumbuhkan akhlak yang lebih lembut, solidaritas sosial, serta kesiapan menyambut pekan baru dengan hati yang jernih. Semoga setiap Jumat menjadi momentum memperbarui niat dan memperbanyak sholawat.

Sumber: Antara.