UTAMA
Indeks
Nasional

Baznas Buka Dapur Umum untuk Korban Gempa Manggarai Barat

Upaya pemenuhan pangan pascabencana kembali digencarkan lewat dapur umum Baznas di wilayah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur. Tim Baznas Tanggap Bencana mendirikan fasilitas masak bersama di Pondok Pesantren Pancasila, Desa Mata Air, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai Barat, pada Selasa, 18 Agustus 2026. Langkah itu diambil agar warga di pengungsian memperoleh makanan siap saji secara berkala. Bagi pembaca di Surakarta, kabar ini juga relevan karena penyaluran zakat dan sedekah kebencanaan sering menjadi saluran kepedulian lintas daerah.

Lokasi layanan dan alasan penempatan dapur

Titik layanan dipilih di kompleks pesantren yang dinilai mudah dijangkau pengungsi sekitar Reok. Dengan menempatkan dapur di area yang sudah dikenal warga, distribusi makanan diharapkan lebih tertib dan tidak membebani jalur evakuasi. Fasilitas ini bukan sekadar tempat memasak, melainkan simpul koordinasi antara petugas, relawan, dan warga setempat yang ikut membantu.

Kehadiran dapur umum menandai prioritas Baznas pada kebutuhan dasar, terutama pangan, di fase tanggap darurat. Ketika rumah rusak dan aktivitas dapur keluarga terhenti, pasokan makanan kolektif menjadi penopang agar pengungsi tidak kelaparan sambil menunggu bantuan lanjutan.

Pernyataan pimpinan Baznas soal prioritas pangan

Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan, Idy Muzayyad, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak menjadi fokus utama penanganan gempa di NTT. Ia menjelaskan dapur umum mulai beroperasi untuk memproduksi makanan dengan dukungan relawan dan warga sekitar.

Menurut Idy, volume masakan akan disesuaikan dengan dinamika kebutuhan di lapangan. Artinya, kapasitas dapur tidak dipatok kaku, melainkan mengikuti jumlah pengungsi dan kondisi logistik harian. Keterlibatan masyarakat lokal dinilai mempercepat pelayanan sekaligus mempererat koordinasi penyaluran bantuan.

Peran relawan dan penyesuaian bantuan di lapangan

Relawan bersama warga membantu proses produksi makanan siap saji agar layanan tidak tertumpu pada petugas pusat saja. Model gotong royong ini mempersingkat waktu dari dapur ke penerima, terutama saat akses transportasi masih terbatas. Di sisi lain, pemantauan terus dilakukan agar jenis dan jumlah bantuan tetap relevan dengan situasi pengungsian.

Selain dapur umum, Baznas menyatakan terus mengerahkan berbagai upaya agar warga terdampak menerima bantuan yang memang dibutuhkan selama masa tanggap bencana. Pendekatan tersebut menempatkan pangan sebagai fondasi, seraya membuka ruang respons lain sesuai temuan di lokasi.

  • Operasi dapur umum di Ponpes Pancasila, Desa Mata Air, Reok.
  • Produksi makanan dibantu relawan dan warga setempat.
  • Jumlah sajian disesuaikan kebutuhan pengungsi.
  • Pemantauan berkala untuk menjaga ketepatan bantuan.

Komitmen hingga pemulihan dan saluran kepedulian publik

Idy menyampaikan keprihatinan Baznas atas musibah di NTT dan menekankan komitmen lembaga untuk mendampingi masyarakat terdampak hingga masa pemulihan, bukan hanya pada hari-hari awal darurat. Pemantauan kondisi warga menjadi dasar penyesuaian bantuan agar tidak meleset dari kebutuhan nyata.

Masyarakat yang ingin turut membantu dapat menyalurkan sedekah kebencanaan melalui kanal resmi Baznas. Informasi penyaluran dipublikasikan lewat laman baznas.go.id/sedekahbencana. Transparansi saluran resmi penting agar bantuan tepat sasaran dan tidak terserap perantara yang tidak jelas.

Dari kacamata pembaca Solo Raya, kisah dapur umum ini mengingatkan bahwa soliditas kemanusiaan tidak dibatasi jarak geografis. Gempa di Manggarai Barat menuntut respons cepat pada pangan, koordinasi relawan, dan komitmen jangka menengah hingga pemulihan. Dengan layanan dapur yang sudah berjalan serta penyesuaian bantuan berbasis pantauan lapangan, diharapkan pengungsi memperoleh tumpuan dasar yang lebih stabil di tengah situasi darurat.

Sumber: Tempo.