UTAMA
Indeks
Nasional

Ziarah ke Pusara Affan Kurniawan Masih Berlanjut Meski Setahun Telah Lewat

Makam Affan Kurniawan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, belum sepenuhnya sepi peziarah menjelang genap satu tahun kepergiannya. Mahasiswa dan kerabat almarhum masih sesekali datang berdoa di Blok A1 kompleks pemakaman itu, meski intensitas kunjungan sudah jauh menurun dibanding bulan-bulan awal.

Bagi pembaca di Surakarta dan sekitarnya yang mengikuti perkembangan isu nasional, nama Affan tetap lekat sebagai pengemudi ojek daring yang tewas dalam insiden kericuhan demonstrasi. Kematiannya sempat memicu gelombang solidaritas di berbagai kota, termasuk tuntutan agar proses hukum berjalan adil.

Kunjungan mahasiswa dan keluarga tak lagi rutin

Petugas kebersihan TPU Karet Bivak, Agus (48), menceritakan bahwa peziarah dari kalangan mahasiswa masih muncul di area makam. Dalam dua bulan terakhir ia mencatat sekitar tiga kali kedatangan. Kunjungan paling akhir terjadi pada pagi hari.

Menurut Agus, frekuensi ziarah kini tidak menentu. Kadang seminggu sekali, kadang dua kali, namun secara keseluruhan sudah jarang. Pada dua bulan pertama setelah pemakaman, suasana di sekitar pusara jauh lebih ramai. Memasuki bulan ketiga, jumlah orang yang datang mulai mereda.

Keluarga Affan juga masih meluangkan waktu ke makam, meskipun tanpa jadwal tetap. Agus beberapa kali melihat ayah dan paman almarhum berziarah. Ia menaksir kunjungan mereka hanya dua kali dalam selang beberapa bulan, bukan setiap bulan.

Tokoh publik pernah datang, identitas tak selalu diketahui

Selain mahasiswa dan kerabat, sejumlah tokoh pernah menjejakkan kaki di makam Affan. Agus mengaku tidak menanyakan nama atau jabatan para peziarah. Kebiasaan di lokasi itu sederhana: datang, berdoa, lalu meninggalkan area tanpa banyak basa-basi.

Pola kunjungan yang tenang itu mencerminkan pergeseran suasana. Dari keramaian penuh duka di awal, makam kini lebih sering sepi, meski belum benar-benar ditinggalkan orang-orang yang ingin mengenang.

Imbauan keluarga: jangan gelar peringatan berlebihan

Menjelang satu tahun wafat Affan, orang tua almarhum, Zulkifli dan Erlina, menyampaikan pesan lewat video. Mereka mengimbau rekan seprofesi maupun masyarakat luas agar tidak menggelar kegiatan peringatan secara berlebihan.

Pernyataan itu disampaikan Zulkifli pada 13 Agustus 2026. Keluarga berharap penghormatan tetap dijalankan dengan cara yang sederhana dan tidak memicu keramaian yang tidak perlu. Meski imbauan sudah tersampaikan, ziarah pribadi ke makam tetap berlangsung dalam skala kecil.

Dari pengemudi ojol menjadi simbol tuntutan keadilan

Affan Kurniawan meninggal pada 28 Agustus 2025 setelah terlibat dalam insiden saat kericuhan demonstrasi di Jakarta. Kabar ia tewas dilindas kendaraan taktis Brimob cepat menyebar dan memicu kemarahan komunitas pengemudi ojek daring serta publik luas.

Aksi solidaritas dan desakan keadilan kemudian muncul di sejumlah daerah. Di ibu kota, massa pengemudi ojol sempat mendatangi Markas Brimob Polda Metro Jaya di kawasan Kwitang, diikuti kericuhan hingga dini hari. Nama Affan pun bergeser dari sekadar pengemudi ojol menjadi simbol tuntutan keadilan.

Ia dimakamkan di TPU Karet Bivak pada 29 Agustus 2025. Kini, setahun kemudian, suasana di sekitar pusara jauh lebih tenang. Bagi sebagian peziarah, lokasi itu tetap menjadi tempat hening untuk berdoa dan mengingat perjalanan hidup Affan tanpa perlu keramaian besar.

Perkembangan di makam Affan menjadi catatan tersendiri bagi publik yang mengikuti isu keadilan sosial di tingkat nasional, termasuk warga Solo yang kerap menyimak berita dari ibu kota. Ziarah yang sesekali datang menunjukkan duka kolektif belum sepenuhnya padam, meski waktu terus berjalan.

Sumber: Liputan6.

Tag: Affan Kurniawan, makam Affan, TPU Karet Bivak, pengemudi ojol, ziarah makam, tuntutan keadilan, Jakarta Pusat, setahun wafat