Buku tentang kepemimpinan heroik kerap dibuka dengan tips menjadi sosok yang kuat dan tegas. The Art of Heroic Leadership karya Zulfikar M. Rachman dan Ahmad Mukhlis Yusuf justru menempuh arah sebaliknya. Lewat resensi Yudha Heryawan Asnawi, pembaca diajak memahami bahwa kepemimpinan yang dapat dipercaya bermula dari keberanian melihat keterbatasan diri dan sistem, bukan dari kemampuan memerintah semata.
Judul lengkapnya, The Art of Heroic Leadership, From Systemic Blindness to Trustworthy Shared Action, menegaskan kerangka pikir kedua penulis. Kepemimpinan digambarkan sebagai perjalanan dari ketidakmampuan melihat menuju tindakan bersama yang layak dipercaya. Bagi pembaca di Surakarta dan Jawa Tengah yang aktif di organisasi publik, komunitas, maupun dunia usaha, sudut pandang ini terasa dekat dengan praktik sehari-hari yang sering terjebak pada hasil cepat.
Mengapa organisasi modern rentan salah baca persoalan
Dunia organisasi kini menghadapi jalinan masalah yang sulit dipisahkan secara rapi. Keputusan ekonomi memengaruhi kepercayaan sosial. Perubahan teknologi mengubah pekerjaan sekaligus identitas orang yang menjalaninya. Konflik politik dapat merembet ke ranah ekonomi dan kemanusiaan. Di dalam lembaga, keberhasilan di satu unit kadang justru menumbuhkan persoalan di unit lain.
Buku ini menempatkan kondisi tersebut sebagai isu kepemimpinan, bukan sekadar kompleksitas teknis. Pertanyaannya bukan hanya apakah pemimpin mampu bertindak, melainkan apakah ia cukup jernih melihat apa yang sedang terjadi serta akibat yang ditimbulkan tindakannya. Di sinilah konsep systemic blindness menjadi pintu masuk utama.
Systemic blindness dan jebakan budaya eksekusi
Pemimpin bekerja di dalam sistem yang sudah punya sejarah, struktur kuasa, insentif, kebiasaan, dan relasi antaraktor. Karena berada di dalamnya, gejala struktural sering terbaca sebagai kesalahan individu. Perbaikan lalu diarahkan pada bagian yang tampak, sementara pola yang melahirkan masalah tetap berjalan. Niat baik pun bisa menghasilkan dampak tak diinginkan bila persepsi terhadap sistem masih parsial.
Kritik tajam diarahkan pada budaya manajemen yang terlalu percaya pada eksekusi. Strategi makin terukur, data makin tersedia, dan kinerja makin mudah dipantau. Namun kemampuan mengeksekusi tidak otomatis membuat organisasi lebih sehat. Eksekusi yang sangat disiplin justru dapat memperbesar kekeliruan bila kerangka berpikir dasarnya salah. Eksekusi tidak memperbaiki persepsi; dalam kondisi tertentu ia malah mempercepat perluasan keterbatasan itu.
Tiga gerakan: Descent, Re-Formation, dan Widening
Sebelum tindakan dapat dipercaya, buku ini menanyakan apa yang harus menjadi fondasi kepemimpinan. Titik berat bergeser dari kompetensi ke tanggung jawab. Pemimpin tidak hanya bertanggung jawab atas niatnya, tetapi juga atas konsekuensi yang menyentuh kehidupan orang lain setelah keputusan dibuat. Niat baik saja tidak lagi cukup sebagai ukuran moral.
Alur gagasan dibangun lewat tiga gerakan besar. Descent mengajak pemimpin turun dari rasa percaya diri yang terlalu cepat menuju kesediaan meninjau sistem dan dirinya. Re-Formation membangun kembali dasar dari mana seseorang bertindak. Widening membawa perubahan keluar dari ruang pribadi menuju ruang bersama, sehingga kesadaran individual menemukan bentuk sosial dan menjadi aksi kolektif.
- Descent: kerendahan hati untuk melihat ulang diri dan sistem
- Re-Formation: menyusun ulang dasar tindakan yang dapat diandalkan
- Widening: memperluas perubahan ke tingkat bersama yang dapat dijalankan
Self blindspot, tanggung jawab manusia, dan relevansi lokal
Konsep self blindspot dipasangkan dengan system blindspot. Manusia tidak pernah memandang sistem dari luar sistem; ia selalu melihat lewat dirinya sendiri. Keterbatasan sistem dan keterbatasan batin saling menguatkan. Pemimpin yang gagal membaca kondisi batinnya mudah salah menafsirkan sistem, sementara sistem yang tak terbaca memperkuat reaksi sempit di dalam dirinya.
Buku setebal lebih dari tiga ratus halaman ini mengingatkan bahwa kepemimpinan tetap dijalankan oleh manusia, bukan oleh jabatan, kerangka strategi, atau perangkat manajemen semata. Pelajaran itu relevan bagi pengelola organisasi di Solo Raya: keberhasilan program tidak cukup diukur dari kecepatan eksekusi, melainkan dari kemampuan melihat dampak silang antar bagian dan menjaga kepercayaan publik.
Pada akhirnya, The Art of Heroic Leadership menawarkan cara membaca ulang apa arti memimpin di tengah sistem yang rumit. Bukan heroisme panggung, melainkan keteguhan untuk melihat buta titik diri dan kelembagaan, lalu mengubahnya menjadi tindakan bersama yang dapat dipercaya. Bagi pembaca yang mencari bahan renungan kepemimpinan di luar resep motivasi usang, resensi atas karya ini layak dijadikan titik berangkat.
Sumber: Republika.
