UTAMA
Indeks
Nasional

Sima dari Delapan Bersaudara: Kerja Serabutan hingga Toga Magister Manajemen

Bagi pembaca di Solo dan sekitarnya yang akrab dengan cerita orang tua soal ketekunan belajar, kisah Siti Maghfiroh alias Sima menawarkan cermin nyata: gelar magister Sima diraih bukan dari jalur mulus, melainkan dari keringat harian yang menopang keluarga besar. Ia anak perempuan pertama dari delapan bersaudara. Nama lengkapnya sering bentrok dengan banyak orang, sehingga panggilan Sima jadi identitas perjuangannya di dunia kerja dan wirausaha.

Sejak dini ia terbiasa memikul tanggung jawab. Tekadnya sederhana namun tegas: bertahan hidup, menuntaskan pendidikan setinggi mungkin, dan mengangkat derajat keluarga. Tidak ada fasilitas berlimpah; yang ada hanyalah rutinitas kerja halal dan jadwal kuliah yang saling bertumpuk.

Beban tulang punggung saat menempuh sarjana

Fase Sarjana Manajemen di Universitas Pamulang menjadi medan paling menempa. Sima membiayai dirinya sendiri, membantu orang tua, dan menyekolahkan adik-adik. Ia tidak memilih-milih pekerjaan: buruh cuci gosok, SPG hingga leader merek fashion, guru les privat dari TK sampai SMA, guru TK dan toddler, admin toko bunga, penjaga angkringan, hingga pengemudi ojek daring.

Jiwa dagang ikut bergerak di sela kuliah. Ia berjualan daring, tanaman hias, membuka pre-order lewat WhatsApp, dan menjajakan makanan buatan sendiri menyusuri lantai 1 hingga 6 kampus UNPAM Pusat. Uang kiriman ke kampung diputar bersama penghasilan orang tua agar adik-adik tetap bersekolah dari TK hingga SMA.

Titik berat datang ketika ia jatuh sakit di tengah kesibukan S1. Motor kesayangan terpaksa dijual demi biaya wisuda, dan ia resign dari pekerjaan tetap meski atasan memberi kelonggaran istirahat. Fokus kesembuhan dan penyelesaian studi dipilihnya, sambil kembali mengandalkan kerja serabutan. Pada 14 Agustus 2023 ia resmi menyandang gelar Sarjana Manajemen. Adik perempuannya ikut menuntaskan S1; adik laki-laki berhenti di semester 4.

Mengajar IPS dan merintis camilan merek sendiri

Usai S1, Sima mengabdikan diri sebagai guru IPS di tingkat SMP, menanamkan pengetahuan sekaligus karakter. Parallel dengan itu, usaha Aneka Jaya Baru berkembang. Camilan seperti Morsit, makaroni, dan Kripik Sima lolos kurasi dan masuk gerai Lebstore UNPAM Pusat, kemudian UNPAM Viktor, hingga Lebstore SMK UNPAM. Lini kreatif lain—buket, hantaran, madu hutan, dan bouquet berlabel Sima—ikut menopang kemandirian finansial.

Pesannya untuk adik-adik tegas: pendidikan bukan satu-satunya jaminan sukses, tetapi membuka pandangan dan memberi ketenangan. Ilmu yang dituntut, cepat atau lambat, akan berguna.

Ujian dehidrasi dan proposal tesis di jenjang magister

Semangat belajar mendorongnya masuk Magister Manajemen di kampus yang sama. Semester 2 ia kembali sakit karena dehidrasi parah; minat sempat pudar. Dukungan keluarga, teman, dan dosen membuatnya bangkit—bahkan dengan tangan masih terpasang infus, tugas kuliah tetap dikejar.

Semester 3 menghadirkan ujian mental lain: proposal tesis ditolak berkali-kali. Keraguan datang, namun dosen yang bijak dan suportif mengembalikan nyala semangat. Baginya, proses jauh lebih berharga daripada angka di atas kertas; ketahanan mental terbentuk dari apa yang dijalani hari demi hari.

Puncak haru di podium dan makna kerja keras

Pada 31 Juli 2026 Sima menuntaskan Magister Manajemen. Air mata lega dan senyum haru menandai garis finis perjalanan panjang: dari anak sulung yang jadi tulang punggung, buruh cuci, pedagang di tangga kampus, pengirim chat pre-order, pasien yang tetap mengerjakan tugas, hingga guru sekaligus pengusaha. Kerja keras, katanya, tidak pernah mengkhianati hasil. Latar sederhana tidak menutup hak siapa pun untuk bermimpi tinggi dan memperjuangkannya dengan hormat.

Kisah ini relevan bagi generasi muda Surakarta yang sering menyeimbangkan kuliah, kerja paruh waktu, dan usaha rumahan. Tanpa meniru jalan yang sama, nilainya jelas: disiplin harian, tanggung jawab keluarga, dan keberanian bertahan saat tubuh serta mental diuji tetap bisa berujung pada gelar dan kemandirian usaha.

Sumber: Republika.

Tag: Siti Maghfiroh, gelar magister, Universitas Pamulang, UMKM camilan, perjuangan pendidikan, Aneka Jaya Baru, Morsit, inspirasi keluarga