UTAMA
Indeks
Nasional

Riset Ragi Tempe Didorong Jadi Andalan Ekspor Pangan

Upaya menaikkan kelas tempe ke tempe pasar global kembali menguat lewat dukungan riset perguruan tinggi, mitra industri, dan kebijakan hilirisasi sains. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan menegaskan, pangan fermentasi yang akrab di meja makan masyarakat itu bisa menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi bila dikawal inovasi kemasan, standardisasi, dan penyerapan industri. Pesan tersebut disampaikan dalam diskusi publik bertema Ragi Nusantara: Dari Sepotong Tempe untuk Ketahanan Pangan di Antara Heritage Center, Jakarta, Rabu (2/9).

Bagi pembaca di Surakarta dan sekitarnya, isu ini terasa dekat karena tempe sudah lama menjadi bagian rantai pangan harian sekaligus usaha mikro di Jawa Tengah. Tanpa mengubah fakta acara yang berlangsung di ibu kota, arah kebijakan yang dibahas menyasar peluang yang sama bagi pelaku pengolahan kedelai di daerah, termasuk sentra produksi yang memasok pasar Solo Raya.

Dikti Saintek Berdampak dan pencarian mitra industri

Fauzan mengaitkan pengembangan tempe dengan konsep Dikti Saintek Berdampak. Hasil laboratorium tidak boleh berhenti di laporan riset, melainkan harus sampai ke masyarakat dan memberi efek ekonomi. Ia menekankan perlunya off-taker industri yang siap memproduksi tempe dengan standar kelas ekspor, mulai dari konsistensi mutu hingga daya saing di pasar luar negeri.

Menurutnya, kombinasi riset, inovasi pengemasan, dan penguatan rantai industri menjadi prasyarat agar citra tempe sebagai pangan rakyat bertransformasi menjadi produk bernilai tambah. Langkah itu juga dipandang sejalan dengan penguatan ketahanan pangan nasional yang memanfaatkan kekayaan hayati dalam negeri.

Inovasi ragi Rhizopus lewat Program Bestari Saintek UI

Tim periset Universitas Indonesia pada Program Bestari Saintek dengan pendanaan LPDP mengembangkan ragi tempe dari kombinasi beberapa spesies Rhizopus. Pendekatan yang dipakai adalah living lab: formulasi diuji pada kondisi nyata dan diperbaiki berdasarkan umpan balik pengguna, bukan semata uji di ruang steril.

Prof Wellyzar Sjamsuridzal, periset Bestari Saintek sekaligus akademisi UI, menjelaskan bahwa riset ragi merupakan bagian dari pemahaman dan pelestarian biodiversitas mikroba Indonesia. Keragaman mikroorganisme, ujarnya, dapat dikelola secara bertanggung jawab menjadi inovasi yang memperkuat ketahanan pangan dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.

Aspek lingkungan turut diperhitungkan. Pengaruh suhu dan kelembapan terhadap fermentasi mendorong perlunya ragi yang lebih adaptif agar hasil tempe stabil di berbagai kondisi produksi. Stabilitas ini penting bila skala usaha dinaikkan dari dapur atau unit kecil menuju fasilitas yang menargetkan pasar lebih luas.

Hilirisasi bersama FKS Group dan standar pangan

FKS Group berperan sebagai mitra pengembangan dan scale-up, membawa inovasi dari laboratorium ke skala pilot hingga kesiapan industri. VP Commercial FKS Group Danar Samron menegaskan, hilirisasi menuntut rangkaian pengujian, standardisasi, kesiapan produksi, jaminan keamanan pangan, serta keberlanjutan pasokan bahan baku.

Tanpa fondasi itu, riset unggulan sulit berumur panjang di pasar. Kolaborasi kampus dan industri menjadi jembatan agar formulasi ragi tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga layak diproduksi berulang dengan mutu yang dapat diaudit.

Identitas rasa Nusantara dan kolaborasi lintas pihak

Pakar gastronomi sekaligus chef Wira Hardiyansyah menambahkan, keragaman ragi dan praktik fermentasi adalah bagian identitas kuliner Indonesia. Warisan itu perlu dijaga sambil terus dikembangkan agar kekayaan rasa Nusantara dikenal lebih luas di kancah internasional, tanpa kehilangan akar budayanya.

Diskusi digelar Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi bersama FKS Group dan LKBN ANTARA. Forum ini mempertemukan akademisi, pelaku industri, pemerintah, dan pakar pangan untuk memetakan langkah konkret pengembangan ragi Nusantara. Dari meja diskusi tersebut, tempe diharapkan tampil sebagai contoh bagaimana biodiversitas, sains, teknologi, dan industri bisa diramu menjadi inovasi pangan berdaya saing.

Bagi ekosistem pangan di Solo dan Jawa Tengah, sinyal kebijakan ini bisa dibaca sebagai undangan memperkuat mutu, kemasan, dan jejaring offtake, tetap berpijak pada fakta bahwa inisiatif yang dilaporkan berpusat pada riset UI dan mitra nasional di Jakarta. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, sepotong tempe sehari-hari berpeluang naik kelas menjadi produk yang diperhitungkan di tempe pasar global.

Sumber: Republika.

Tag: tempe ekspor, ragi tempe, riset UI, ketahanan pangan, hilirisasi sains, Fauzan Wamendikti, Solo Raya, pangan fermentasi