Sorotan publik terhadap Fanny Kondoh kembali menguat setelah influencer itu mengaku hampir putus asa akibat gelombang hujatan di media sosial. Peristiwa yang bermula dari momen pelukan dengan dr Gia Pratama saat perilisan film Baby Udon itu berkembang menjadi tekanan mental yang berat. Bagi pembaca di Surakarta dan sekitarnya, kisah ini menjadi pengingat bahwa perundungan daring bisa menembus ruang pribadi siapa saja, termasuk ibu muda yang aktif di dunia digital.
Fanny menyampaikan pengakuannya saat menjadi bintang tamu podcast Melaney Ricardo. Dengan suara terbata dan air mata, ia menggambarkan betapa serangan netizen terasa di luar kendalinya hingga mengganggu peran sehari-hari sebagai orang tua.
Awal hujatan yang memicu tekanan berat
Perbincangan publik memanas setelah cuplikan acara perilisan film Baby Udon beredar luas. Di momen itu Fanny terlihat memeluk dr Gia Pratama, dan reaksi warganet pun berdatangan dengan nada pedas. Bukan sekadar kritik biasa, serangan itu menurut pengakuannya terus menumpuk hingga menggerus stabilitas emosinya.
Ia menekankan bahwa volume dan intensitas hujatan membuatnya kesulitan menjaga rutinitas. “Serangannya terlalu out of my control, dan it make me almost give up. Aku sampai enggak function sebagai ibu,” ujar Fanny di podcast tersebut. Kalimat itu menjadi potret betapa cepatnya ruang daring bisa mengikis rasa aman seseorang.
Titik terendah dan persiapan yang mengkhawatirkan
Di titik paling gelap, Fanny mengaku sempat berpikir mengakhiri hidup. Ia bahkan melakukan sejumlah langkah yang menandakan kondisi mentalnya sudah sangat rapuh. Melalui pesan WhatsApp, ia menghubungi adiknya untuk menitipkan anaknya, Kazuki yang akrab disapa Kazkaz, sekaligus memberi tahu lokasi uang dan kata sandi terkait.
Pesan serupa juga dikirim kepada suster yang membantu mengurus anak. Fanny menyampaikan rasa lelah dan ketidakmampuannya menahan tekanan lebih lama. Rangkaian tindakan itu menunjukkan betapa hujatan yang berlarut dapat mendorong seseorang ke ambang keputusan berbahaya, meski dari luar ia tampak aktif sebagai figur publik.
Peran anak sebagai penolong di masa krisis
Di tengah bayangan keputusasaan itu, kehadiran Kazuki menjadi penolong yang menahannya. Ikatan sebagai ibu membuat Fanny menimbang ulang langkah ekstrem yang sempat terpikir. Pengakuan ini menggarisbawahi bahwa dukungan emosional dari keluarga inti sering kali menjadi jangkar terakhir ketika tekanan publik terasa tak tertahankan.
Bagi banyak orang tua di kota-kota seperti Solo, narasi semacam ini relevan karena pola asuh dan kesehatan mental kerap bersinggungan dengan paparan media sosial. Tanpa menghakimi tokoh yang bersangkutan, pengalaman Fanny mengajak publik meninjau ulang cara berkomentar di ruang digital.
Pelajaran soal empati dan literasi digital
Kasus Fanny Kondoh bukan hanya tentang satu nama influencer. Ia mencerminkan risiko kesehatan mental yang muncul ketika kritik berubah menjadi serangan personal massal. Di Jawa Tengah, termasuk kawasan Surakarta, diskusi soal literasi digital dan empati daring semakin penting seiring tingginya penggunaan media sosial lintas usia.
- Menahan diri sebelum menyebarkan hujatan personal
- Memisahkan kritik karya atau sikap dari serangan terhadap kehidupan pribadi
- Mendorong orang terdekat mencari bantuan profesional bila tekanan memuncak
Fanny telah meminta maaf terkait polemik pelukan yang memicu gelombang reaksi itu. Namun pengakuannya di podcast Melaney Ricardo menegaskan bahwa dampak psikologis hujatan bisa bertahan jauh lebih lama daripada tren percakapan di linimasa. Publik diharapkan lebih bijak menempatkan batas antara kebebasan berpendapat dan perlindungan martabat sesama.
Kisah ini juga mengingatkan bahwa figur yang terlihat kuat di layar kaca atau unggahan Instagram tetap manusia biasa. Ketika anak menjadi alasan untuk bertahan, harapan baru terbuka, tetapi pemulihan mental tetap membutuhkan lingkungan yang lebih empatik dan dukungan yang berkelanjutan.
Sumber: Sindo News.
