Badan Nasional Penanggulangan Bencana terus mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah rawan. Fokus operasi saat ini mengarah ke Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan, di mana kamera thermal karhutla mulai dimanfaatkan untuk melacak sisa api yang sulit terlihat di permukaan tanah. Langkah itu diungkapkan Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Bagi pembaca di Surakarta dan sekitarnya, perkembangan ini relevan sebagai pengingat musim kemarau nasional. Asap lintas wilayah sering memengaruhi kualitas udara di Jawa, sehingga imbauan masker dan pemantauan cuaca tetap penting meski titik api utama berada di luar Jawa Tengah.
Kondisi lapangan di Sumatera Selatan
Di Sumatera Selatan terpantau 13 titik api. Kualitas udara umumnya berada pada kategori sedang, sementara jarak pandang turun di bawah dua kilometer. Kegiatan belajar-mengajar masih berlangsung normal, disertai anjuran memakai masker bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan.
Satuan tugas darat diprioritaskan di lima wilayah, yakni Muara Enim, Prabumulih, Ogan Ilir, Palembang, dan Ogan Komering Ulu Selatan. Karena potensi hujan sangat minim, petugas memanfaatkan air dari kanal terdekat untuk menekan api di lahan gambut dan semak.
Dukungan udara juga digelar. Empat unit helikopter menjalankan water bombing sebanyak tujuh sorti dan menumpahkan sekitar 792 ribu liter air. Operasi Modifikasi Cuaca belum bisa dijalankan karena tidak ditemukan bibit awan yang memadai di atmosfer.
Tantangan lebih berat di Kalimantan Selatan
Situasi di Kalimantan Selatan digambarkan lebih menantang. Tercatat 13 titik panas dengan kualitas udara yang sempat masuk kategori berbahaya dan jarak pandang di bawah tiga kilometer. Sejumlah sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh secara kondisional agar siswa terhindar dari paparan asap.
Pemadaman masif menyasar sepuluh wilayah prioritas, antara lain Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, Balangan, serta Kota Banjarbaru. Lima unit pesawat atau helikopter water bombing menyelesaikan 11 sorti dan menyebarkan 1.328.000 liter air. Luas lahan yang berhasil dipadamkan dilaporkan lebih dari 60 hektare.
Peran kamera thermal dan proteksi Ring 1
Ketiadaan titik awan membuat rekayasa hujan tetap tertunda. Cuaca kering masih berpotensi memunculkan fire spot baru karena sebagian besar lahan masuk kategori mudah hingga sangat mudah terbakar. Untuk menutup celah itu, BNPB mengandalkan kamera thermal karhutla guna mendeteksi bara yang tersembunyi di dalam tanah.
Teknologi tersebut mempercepat pencarian lokasi yang belum benar-benar padam, terutama di lahan gambut. Petugas juga memusatkan perhatian pada zona Ring 1, seperti kawasan bandara dan permukiman padat, agar asap serta api tidak mengganggu fasilitas kritis dan keselamatan warga.
Kolaborasi lintas instansi dan imbauan warga
Operasi harian melibatkan BNPB, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, dan masyarakat setempat. Patroli darat maupun udara dipastikan berlanjut setiap hari selama kekeringan masih tinggi. Masyarakat diminta memakai masker saat beraktivitas di luar rumah, membatasi pembakaran terbuka, dan segera melapor jika menemukan asap atau bara di lahan sekitar.
- Pantau jarak pandang dan indeks kualitas udara harian.
- Siapkan masker untuk anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.
- Jangan membuka lahan dengan cara membakar.
- Laporkan titik asap mencurigakan ke BPBD atau aparat terdekat.
Ringkasnya, penguatan satgas, water bombing berskala besar, dan kamera thermal menjadi andalan BNPB menekan karhutla di Sumsel serta Kalsel. Kewaspadaan publik di daerah lain, termasuk Solo Raya, tetap diperlukan selama musim kemarau belum berakhir dan risiko asap masih terbuka.
Sumber: Liputan6.
