UTAMA
Indeks
Jateng

Kajian UAD Bahas Sepuluh Wasiat Al-An’am sebagai Jalan Lurus Umat

Nilai kebaikan baru bermakna jika dijadikan pegangan nyata, bukan sekadar daftar benar dan salah. Pesan itu mengemuka dalam Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang mengangkat wasiat Al-An’am bagi jamaah, termasuk warga Muslim di kawasan Solo Raya dan Jawa Tengah yang mengikuti isu keislaman kampus.

Acara berlangsung Ahad, 2 Agustus 2026, dengan tema Al-Washaya Al-‘Asyrah merujuk Surah Al-An’am ayat 151–153. Pemateri Prof. Dr. Waharjani, M.Ag., Guru Besar Psikologi Pendidikan Profetik, menegaskan sepuluh wasiat Allah sebagai petunjuk menuju siratal mustaqim.

Makna wasiat dan analogi jalan lurus

Prof. Waharjani menjelaskan Al-Washaya Al-‘Asyrah sebagai sepuluh perintah Tuhan. Dalam sejumlah tafsir, rangkaian itu disebut jalan lurus yang menuntun manusia ke tujuan yang benar.

Ia memakai perumpamaan jalan tol: ruangnya lebar, banyak kendaraan boleh lewat, asal arahnya tetap sama. Begitu pula siratal mustaqim—beragam amal kebaikan boleh ditempuh selama mengantar ke Jannatun Naim. Aktivitas harian, bukan konsep abstrak, yang membangun jalan itu.

Lima wasiat awal dari ayat 151

Dari ayat 151 disimpulkan lima wasiat pertama: larangan menyekutukan Allah, perintah berbuat baik kepada orang tua, larangan membunuh anak karena takut miskin, larangan perbuatan keji, serta larangan menghilangkan nyawa yang diharamkan Allah.

Perhatian khusus diberikan pada bakti kepada orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Saat usia orang tua bertambah, mereka sering kembali membutuhkan dampingan layaknya anak kecil. Kesabaran anak menjadi kunci merawat dan memenuhi kebutuhan mereka tanpa mengeluh.

Amanah, takaran, dan janji dalam ayat 152

Pembahasan berlanjut ke ayat 152: larangan mendekati harta anak yatim secara tidak benar, perintah menyempurnakan takaran dan timbangan dengan adil, serta kewajiban berlaku adil dan menepati janji.

Kejujuran timbangan, kata Prof. Waharjani, tidak terbatas pada jual-beli. Ia mencerminkan cara seseorang memegang amanah. Mengurangi hak orang lain sama dengan menolak prinsip keadilan yang dituntut ayat tersebut. Memenuhi janji pun menjadi bagian utuh dari wasiat yang sama.

  • Menjaga tauhid dan menjauhi syirik
  • Berbakti serta bersabar pada orang tua
  • Melindungi kehidupan dan menjauhi perbuatan keji
  • Menjaga harta yatim, menyempurnakan takaran, dan menepati janji

Relevansi sehari-hari bagi pembaca Solo Raya

Bagi masyarakat Surakarta dan sekitarnya, pesan kajian ini relevan karena menekankan praktik: hormat pada orang tua di keluarga besar Jawa, jujur dalam usaha, serta adil dalam bermuamalah. Siratal mustaqim dibangun dari pilihan kecil setiap hari—hubungan dengan Allah, penghormatan pada orang tua, penjagaan nyawa, kejujuran, dan komitmen pada janji.

Prof. Waharjani menegaskan sepuluh wasiat itu pedoman yang perlu diikuti umat Islam agar langkah tetap lurus. Kajian Ahad Pagi di Islamic Center UAD menjadi pengingat bahwa ilmu agama baru berguna jika diwujudkan dalam sikap dan perbuatan.

Dengan merujuk langsung pada Al-An’am 151–153, jamaah diajak menata niat dan amal agar setiap aktivitas mengarah pada kebaikan yang sama. Itulah inti wasiat yang dibahas di Yogyakarta dan layak direnungkan pembaca di Solo serta Jawa Tengah.

Sumber: Republika.

Tag: kajian UAD, Surah Al-Anam, wasiat Allah, siratal mustaqim, Islamic Center, Prof Waharjani, pendidikan Islam, Ahad Pagi