Deretan bencana dan introspeksi kembali menjadi perbincangan publik ketika longsor, gempa, banjir, kebakaran, hingga erupsi terus dicatat di banyak wilayah Indonesia dan negara lain. Bagi pembaca di Surakarta dan sekitarnya, peristiwa itu sering memicu keprihatinan sekaligus pertanyaan spiritual: mengapa musibah terasa beruntun, dan pelajaran apa yang patut diambil tanpa menafikan fakta ilmiah?
Dalam ajaran Islam, setiap kejadian diyakini tidak lepas dari ketetapan dan izin Allah SWT. Musibah dipandang memiliki sisi hikmah: mendorong evaluasi amal, taubat, serta pendekatan diri kepada Tuhan. Memandang bencana hanya sebagai fenomena alam semata, tanpa merenungkan dimensi akhlak dan ketaatan, dinilai kurang utuh.
Cara pandang yang dikritik Syaikh al-Utsaimin
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dalam khutbah berjudul Atsar al-Ma’ashi, menyoroti kebiasaan sebagian orang yang menafsirkan musibah hanya lewat faktor duniawi. Menurutnya, sikap itu mencerminkan pemahaman yang belum memadai terhadap Al-Qur’an dan sunnah. Di balik rangkaian cobaan, terdapat faktor syar’i yang perlu direnungkan bersama sebab-sebab lahiriah.
Pendekatan ini tidak menolak sains atau mitigasi. Ia justru menempatkan iman dan tanggung jawab moral berdampingan dengan upaya teknis menjaga lingkungan, membangun tangguh bencana, serta menolong sesama. Warga Solo yang akrab dengan nilai gotong royong dapat menempatkan renungan tersebut sebagai penguat etika sosial, bukan pengganti protokol keselamatan.
Ayat Ar-Rum dan makna kerusakan di darat serta laut
Landasan yang kerap dikutip adalah firman Allah dalam QS Ar-Rum ayat 41, yang menyatakan bahwa kerusakan di darat dan di laut tampak karena perbuatan tangan manusia. Tujuannya agar sebagian akibat perbuatan itu dirasakan, supaya manusia kembali ke jalan yang benar. Ayat ini menjadi pengingat bahwa perilaku kolektif—eksploitasi berlebihan, kezaliman, maupun abai terhadap perintah agama—berkaitan dengan kondisi yang menimpa bumi.
Penekanan “sebagian akibat” penting agar tidak menyederhanakan setiap musibah sebagai hukuman individu tertentu. Islam mengajarkan kehati-hatian dalam menuduh, sambil tetap membuka ruang muhasabah: memperbaiki ibadah, jujur dalam muamalah, dan merawat ciptaan. Di tingkat lokal, pesan itu selaras dengan budaya Jawa yang menekankan eling lan waspada tanpa jatuh pada putus asa.
Hikmah musibah: taubat, evaluasi amal, dan jaga alam
Dari perspektif yang dijelaskan Al-Utsaimin, musibah dapat menjadi sarana kembali. Manusia diajak tidak berhenti pada keluhan, melainkan menata ulang niat dan perbuatan. Introspeksi mencakup hubungan dengan Allah, sesama, dan lingkungan. Menjaga sungai, lereng, serta tata ruang yang aman adalah bagian dari amanah, sejalan dengan perintah menghindari kerusakan.
Bagi komunitas di Solo Raya dan Jawa Tengah, momentum berita bencana nasional sering dipakai untuk menguatkan literasi kesiapsiagaan di keluarga, sekolah, dan masjid. Khutbah atau pengajian dapat mengaitkan ayat di atas dengan ajakan sedekah untuk korban, doa bersama, dan kerja bakti mencegah genangan atau longsor ringan di lingkungan padat—tanpa mengarang data peristiwa yang tidak terjadi.
- Merenungkan ayat dan sunnah tanpa menolak penjelasan ilmiah.
- Memperbaiki amal dan hubungan sosial setelah musibah terjadi.
- Menjaga alam sebagai wujud tanggung jawab syar’i dan kewargaan.
- Menghindari tuduhan sepihak sambil tetap melakukan muhasabah diri.
Menyatukan mitigasi dan kesadaran spiritual di ruang publik
Artikel keagamaan semacam ini relevan dibaca publik Solo karena kota dan kawasan penyangga memiliki sejarah peduli terhadap harmoni sosial-religius. Menyatukan doa, taubat, dan langkah konkret—edukasi jalur evakuasi, donasi terverifikasi, serta penghormatan pada petugas—membuat pesan ulama tidak berhenti di wacana. Bencana tetaplah ujian berat; yang diminta adalah sikap utuh: sadar sebab syar’i, aktif menolong, dan konsisten merawat bumi.
Dengan demikian, pertanyaan “mengapa bencana datang terus-menerus” dijawab bukan lewat spekulasi panik, melainkan lewat kerangka iman yang menuntun perbaikan. Syaikh al-Utsaimin mengarahkan umat agar tidak dangkal memandang musibah. Semoga renungan itu memperkuat ketahanan batin dan kepedulian warga, sambil tetap mengutamakan fakta, empati, serta langkah pencegahan yang terukur.
Sumber: Sindo News.
