IdeaFest 2026 resmi dibuka di Jakarta Convention Center, Senayan, pada Jumat, 4 September 2026. Festival kreatif tahunan ini mengusung tema ReHumanize dan berlangsung hingga 6 September 2026. Di hadapan pelaku industri, tema tersebut mengajak peserta meninjau ulang posisi manusia ketika teknologi, terutama kecerdasan buatan, semakin merambah proses kreatif.
Portal Kabar Solo mencatat isu ini relevan bagi banyak pekerja seni dan desain di berbagai kota, termasuk Surakarta yang dikenal kuat pada warisan budaya dan industri kreatif lokal. Tanpa mengabaikan kemajuan digital, festival menekankan bahwa nilai, intuisi, serta kepekaan manusia tidak boleh hilang dari rantai produksi gagasan.
Makna tema ReHumanize di panggung industri kreatif
ReHumanize ditempatkan sebagai pengingat bahwa mesin dan algoritma hanyalah perangkat bantu. IdeaFest 2026 menegaskan teknologi boleh mempercepat riset visual, penyusunan naskah, atau distribusi konten, tetapi keputusan etis, selera artistik, dan empati terhadap audiens tetap bersumber dari manusia.
Para penyelenggara membingkai diskusi agar peserta tidak terjebak pada dikotomi “manusia versus mesin”. Sebaliknya, yang ditawarkan adalah cara menyandingkan keduanya: AI mengolah data dan opsi, sementara kreator menentukan arah narasi, konteks budaya, dan tanggung jawab sosial karya.
Lebih dari 200 pembicara lintas disiplin
Selama tiga hari, festival menghadirkan lebih dari 200 pembicara dari ragam sektor. Topik yang dibahas mencakup kreativitas, media, teknologi, hingga kewirausahaan. Formatnya dirancang sebagai ruang tatap muka agar komunitas saling bertukar praktik, bukan sekadar menonton paparan satu arah.
Kehadiran lintas industri membuka peluang kolaborasi antara praktisi konten, pengembang produk digital, pelaku usaha rintisan, dan pekerja budaya. Pertemuan langsung itu dinilai penting agar inovasi tidak berhenti di wacana, melainkan berlanjut pada uji coba di lapangan.
Mengapa isu ini dekat dengan ekosistem Solo
Surakarta memiliki ekosistem batik, pertunjukan, desain produk, dan komunitas anak muda yang aktif di ruang kreatif. Tema ReHumanize memberi kerangka untuk menilai ulang penggunaan perangkat digital di studio, workshop, maupun kelas pelatihan tanpa mengorbankan ciri khas tangan manusia yang selama ini menjadi daya tarik karya lokal.
Bagi pelaku di Solo Raya, perbincangan tentang AI dan sentuhan manusia bisa menjadi bahan evaluasi alur kerja: mana proses yang boleh diotomatisasi, dan mana yang harus tetap dijaga sebagai jejak personal kreator. Pendekatan itu selaras dengan upaya mempertahankan keaslian budaya sambil tetap terbuka pada alat baru.
- Menjaga kepekaan budaya saat memakai perangkat otomatisasi
- Memanfaatkan AI untuk riset dan efisiensi, bukan mengganti keputusan artistik
- Memperkuat jejaring komunitas lewat pertemuan tatap muka
- Menyambungkan kewirausahaan kreatif dengan etika penggunaan teknologi
Teknologi pendukung, manusia sebagai penentu arah
Dalam kerangka IdeaFest 2026, teknologi diposisikan sebagai penopang imajinasi. Naluri, nilai, dan “sentuhan” manusia disebut tetap menentukan apakah sebuah karya bermakna bagi publik. Penekanan ini menjauhkan peserta dari euforia berlebihan terhadap otomatisasi semata.
Festival di Senayan tersebut juga berfungsi sebagai cermin bagi kota-kota lain di Jawa Tengah. Ketika Jakarta menjadi lokasi temu nasional, ide yang lahir di sana dapat diadaptasi di skala daerah: lokakarya kecil, diskusi kampus, atau forum komunitas yang membahas batas etis AI di ranah seni dan media.
Dengan penutupan dijadwalkan 6 September 2026, IdeaFest tahun ini meninggalkan catatan jelas: kemajuan digital sah dimanfaatkan, tetapi identitas kreatif tetap berpijak pada manusia. Bagi pembaca di Surakarta, pesan itu bisa diterjemahkan ke praktik sehari-hari di studio, merek lokal, dan ruang kolaborasi tanpa harus menunggu panggung besar berikutnya.
Sumber: Liputan6.
